fbpx

DeveloperPropertySyariah.net – Masih ada sebagian kecil kaum muslimin yang meragukan kebolehan jual beli dengan cicilan atau angsuran. Bahkan ada yang kebablasan dengan mengatakan bahwa menjual produk dengan skema angsuran sama dengan membiasakan berhutang. Sementara berhutang adalah sesuatu yang buruk. Lantas mereka simpulkan bahwa jual beli dengan tidak tunai juga buruk. Benarkah..?

Mengenai status memberikan pinjaman [iqrรขdh] jelas, tidak ada perselisihan di kalangan ulamaโ€™, karena adanya indikasi [qarรฎnah] yang kuat dari Nabi saw. Nabi saw. bersabda:

ยซู…ูŽุง ู…ูู†ู’ ู…ูุณู’ู„ูู…ู ูŠูู‚ู’ุฑูุถู ู…ูุณู’ู„ูู…ู‹ุง ู‚ูŽุฑู’ุถู‹ุง ู…ูŽุฑู‘ูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ูƒูŽุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู ู…ูŽุฑู‘ูŽุฉูยป [ุฑูˆุงู‡ ุงุจู† ู…ุงุฌู‡ ุนู† ุงุจู† ู…ุณุนูˆุฏ]

โ€œTidaklah seorang Muslim benar-benar memberikan pinjaman kepada Muslim yang lain dua kali, kecuali [pahalanya] seperti sedekah sekali.โ€ [Hr. Ibn Majah dari Ibn Masโ€™ud]

Indikasi lain, Nabi saw. bersabda:

ยซุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุฃูุณู’ุฑููŠูŽ ุจููŠ ู…ูŽูƒู’ุชููˆุจูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูŽุงุจู ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ุงู„ุตู‘ูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู ุจูุนูŽุดู’ุฑู ุฃูŽู…ู’ุซูŽุงู„ูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูŽุฑู’ุถู ุจูุซูŽู…ูŽุงู†ููŠูŽุฉูŽ ุนูŽุดูŽุฑูŽุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ : ู‚ูู„ู’ุชู ู„ูุฌูุจู’ุฑููŠู„ูŽ : ู…ูŽุง ุจูŽุงู„ู ุงู„ู’ู‚ูŽุฑู’ุถู ุฃูŽูู’ุถูŽู„ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุตู‘ูŽุฏูŽู‚ูŽุฉูุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽุงุฆูู„ูŽ ูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ู ูˆูŽุนูู†ู’ุฏูŽู‡ูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุณู’ุชูŽู‚ู’ุฑูุถู ู„ุง ูŠูŽุณู’ุชูŽู‚ู’ุฑูุถู ุฅูู„ุง ู…ูู†ู’ ุญูŽุงุฌูŽุฉูยป [ุฑูˆุงู‡ ุงุจู† ู…ุงุฌู‡ ุนู† ุงุจู† ู…ุณุนูˆุฏ]

โ€œAku telah melihat di malam, ketika aku diisrakmikrajkan. Tertulis di pintu surga: Sedekah [pahalanya] sepuluh kali lipat. Hutang delapan belas kali lipat. Nabi saw. bertanya: Aku bertanya kepada Jibril: Apa gerangan yang menyebabkan hutang lebih baik ketimbang sedekah? Jibril menjawab: Orang yang meminta boleh jadi dia meminta, sedangkan dia mempunyai harta. Sedangkan orang yang berhutang tidak akan berhutang, kecuali karena membutuhkan.โ€ [Hr. Ibn Majah dari Anas bin Malik]

Kedua hadits tersebut juga dikeluarkan oleh Ibn Qudamah dalam kitabnya, al-Mughni, sekaligus dijadikan dalil untuk menarik hukum kesunahan memberikan pinjaman [qardh]. Karena itu, status hadits tersebut adalah hadits hasan. Meski, hadits yang kedua dilemahkan oleh al-Albani.

PINJAMAN

Selain itu, juga ada indikasi [qarรฎnah] lain, bahwa memberi pinjaman hukumnya sunah. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi saw:

ยซูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุดูŽููŽ ุนูŽู†ู’ ู…ูุณู’ู„ูู…ู ูƒูุฑู’ุจูŽุฉู‹ ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ูƒูŽุดูŽููŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ูƒูุฑู’ุจูŽุฉู‹ ู…ูู†ู’ ูƒูุฑูŽุจู ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉูุŒ ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูููŠ ุนูŽูˆู’ู†ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠ ุนูŽูˆู’ู†ู ุฃูŽุฎููŠู‡ูยป [ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุฏุงุฑู‚ุทู†ูŠ ุนู† ุฃุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉ]

โ€œSiapa saja yang menyingkirkan kesulitan seorang Muslim di dunia, maka Allah akan menyingkirkan salah satu kesulitannya di Hari Kiamat. Allah senantiasa menolong seorang Muslim, selama dia menolong saudaranya.โ€ [Hr. Ad-Daruquthni dari Abu Hurairah]

Memberi pinjaman kepada orang yang membutuhkan jelas termasuk tindakan menyingkirkan kesulitan orang lain, membantu dan memenuhi kebutuhannya. Karena itu, dengan tegas Ibn Qudamah menyatakan, โ€œHutang hukumnya sunah bagi orang yang memberi pinjaman.โ€ [Lihat, Ibn Qudamah, al-Mughni: Kitab al-Buyuโ€™, hal. 947]

Ini dikuatkan dengan hadits Nabi saw. yang menyatakan:

ยซู‚ูŽุฑู’ุถู ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุกู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู…ูู†ู’ ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุชูู‡ูยป [ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจูŠู‡ู‚ูŠ]

โ€œMenghutangkan sesuatu itu lebih baik ketimbang menyedekahkannya.โ€ [Hr. al-Baihaqi]

Ibn โ€˜Umar memberikan penjelaskan tentang makna hadits tersebut, dengan mengatakan:

ยซุงู„ุตู‘ูŽุฏูŽู‚ูŽุฉูŽ ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ูŠููƒู’ุชูŽุจู ุฃูŽุฌู’ุฑูู‡ูŽุง ุญููŠู’ู†ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽุตูŽุฏู‘ูู‚ูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูŽุฑู’ุถู ูŠููƒู’ุชูŽุจู ุฃูŽุฌู’ุฑูู‡ู ู…ูŽุง ุฏูŽุงู…ูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู…ูู‚ุชูŽุฑูุถูยป

โ€œSedekah itu pahalanya baru dicatat, ketika digunakan. Sedangkan hutang, pahalanya terus dicatat selama masih di tangan orang yang berhutang [belum dikembalikan].โ€ [Lihat, Ibn Hajar al-Haitami, al-Inafah fi as-Shadaqah wa ad-Dhiyafah, hal. 57]

Semuanya ini menjadi dalil yang menunjukkan, bahwa status hutang bagi orang menghutangi [muqridh] hukumnya sunah.

jual beli dengan cicilan bertahap

Pertanyaan berikutnya adalah, apakah hukum sunah ini hanya berlaku bagi orang yang memberi pinjaman [muqridh]? Ataukah berlaku juga bagi yang meminjam [muqtaridh]? Dalam konteks ini memang ada perbedaan pendapat. Setidaknya ada yang mengatakan sunah, dan ada yang mengatakan mubah.

Pendapat yang mengatakan sunah adalah pendapat al-โ€˜Allamah al-Qadhi Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya, an-Nidzam al-Iqtishadi fi al-Islam: โ€œMemberi pinjaman kepada orang yang membutuhkan hukumnya sunah. Mencari pinjaman [mustaqridh/berhutang] juga tidak makruh, tetapi hukumnya juga sunah. Karena Rasulullah saw. pernah mencari pinjaman [berhutang]. Selama berhutang itu ada, maka hukumnya sama-sama sunah, baik baik yang memberi pinjaman maupun yang meminjam.โ€ [Lihat, al-โ€˜Allamah al-Qadhi Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, an-Nidzam al-Iqtishadi fi al-Islam, hal. 192]

Adapun pendapat lain, yang mengatakan bahwa berhutang hukumnya mubah, adalah pendapat Ibn Qudamah, dalam kitabnya, al-Mughni. Beliau mengatakan, โ€œHutang itu hukumnya sunah bagi orang yang memberi pinjaman, dan mubah bagi orang yang meminjam.โ€ Tetapi, di sisi lain, beliau menegaskan bahwa berhutang itu tidak makruh. Beliau mengutip pendapat Imam Ahmad, bahwa โ€œBerhutang tidak sama dengan meminta-minta.โ€ Maksudnya, kata beliau, โ€œTidak makruh. Karena, Nabi saw. pernah mencari pinjaman [berhutang]. Dengan dalil hadits Abu Rafiโ€™. Andai saja berhutang itu makruh, tentu sudah dijauhi orang. Di samping, karena berhutang itu tak lebih dari mengambil pinjaman dengan kompensasi. Jadi, menyerupai jual-beli yang dihutang dalam tanggungan.โ€ [Lihat, Ibn Qudamah, al-Mughni: Kitab al-Buyuโ€™, hal. 947]

Karena itu, hukum yang paling kuat menurut pendapat kami, mengenai status berhutang adalah sunah. Bukan mubah. Kesunahan ini berkaitan dengan hutang sebagai solusi untuk menyelesaikan masalah, yaitu adanya kebutuhan yang harus dipenuhi, sementara tidak ada dana yang tersedia untuk memenuhinya. Hanya saja, ini tidak ada kaitannya dengan hutang dengan sistem riba. Karena ini jelas haram.

Mengenai jual beli dengan pembayaran tidak tunai, Rasulullah telah bersabda yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Shuhaib:

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุขู„ูู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุซูŽู„ุงูŽุซูŒ ูููŠู’ู‡ูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุจูŽุฑูŽูƒูŽุฉู: ุงูŽู„ู’ุจูŽูŠู’ุนู ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูŽุฌูŽู„ูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูู‚ูŽุงุฑูŽุถูŽุฉูุŒ ูˆูŽุฎูŽู„ู’ุทู ุงู„ู’ุจูุฑู‘ู ุจูุงู„ุดู‘ูŽุนููŠู’ุฑู ู„ูู„ู’ุจูŽูŠู’ุชู ู„ุงูŽ ู„ูู„ู’ุจูŽูŠู’ุนู (ุฑูˆุงู‡ ุงุจู† ู…ุงุฌู‡ ุนู† ุตู‡ูŠุจ)

“Nabi bersabda, ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual.” (HR. Ibnu Majah dari Shuhaib)

Jika Allah dan Rasul-Nya telah menghalalkan..

Jika Allah dan Rasul-Nya telah mengijinkan..

Bahkan memberkahi aktivitas jual beli dengan pembayaran tidak tunai, kenapa masih ada yang meragukan..?

Wallahu aโ€™lam.